KARAKTERISTIK EPS KETIKA TERJADI KEBAKARAN
PERKENALAN
Tujuan dari dokumen ini adalah untuk menentukan dengan jelas kemampuan EPS untuk bertahan terhadap api saat digunakan sebagai bahan insulator dalam bangunan. Dokumen ini akan memperhitungkan segala aspek ketahanan terhadap api dari EPS dalam hal pelepasan panas, penyebaran api, produksi asap dan racun, serta kontribusinya terhadap penyebaran api. Informasi mengenai karakteristik busa EPS secara mendetail disediakan sebagai dasar untuk mengevaluasi karakteristiknya ketika berdekatan dengan sumber api. Performa untuk bahan tambahan penghambat api juga dievaluasi. Informasi ini dapat digunakan untuk penilaian bahaya dengan mempertimbangkan kompleksitas dari kebakaran yang sesungguhnya dan kesulitan untuk membuat situasi kebakaran secara nyata.
TAHAP-TAHAP KEBAKARAN SUATU BANGUNAN (bagaimana kebakaran suatu bangunan terjadi)
Ketika suatu bangunan digunakan sehari-hari pada saat kondisi suhu normal, terdapat keseimbangan alami antara bahan-bahan yang mudah terbakar dan oksigen di lingkungan tersebut. Tetapi pada tahap awal dari suatu kebakaran, energi pemicu bersentuhan dengan bahan-bahan yang mudah terbakar. Dalam keadaan suhu di atas kurang lebih 100 oC, bahan tersebut akan melepaskan gas-gas yang mudah terbakar, yang mana akan terbakar baik oleh karena energi pencetus awal atau secara spontan. Dalam kasus gas-gas tersebut, pembakaran dapat menyebabkan api sebagaimana bahan-bahan yang padat, seperti furnitur, yang menjadi penyebab awal kebakaran. Pada tahap awal kebakaran, terdapat penumpukan energi panas secara bertahap dalam bentuk gas-gas yang terbakar. Pada saat itu terjadi, suhu masih relatif rendah dan api masih terisolasi di dalam gedung. Lalu tiba-tiba perkembangan terjadi, yang disebut “flash-over”, di mana suhu akan meningkat secara signifikan dan tiba-tiba api akan menyebar ke seluruh bagian. Setelah terjadinya flash-over ini, kesempatan untuk menyelamatkan orang dan peralatan akan menurun sangat drastis. Api kemudian menyebar ke seluruh bangunan dan akhirnya akan padam tanpa campur tangan manusia dikarenakan kurangnya bahan-bahan yang mudah terbakar yang tersisa dalam bangunan.
UMUM
EPS berasal dari monomer styrene dan dapat dikembangkan untuk membentuk suatu struktur seluler dalam jumlah besar dari sel-sel tertutup. Ketika mempertimbangkan karakteristik api terhadap bahan bangunan manapun, sangatlah penting untuk menyadari bahwa penilaian harus didasarkan pada performa dan kondisi penggunaan akhir. Performa ini akan bergantung tidak hanya pada sifat dasar dari suatu bahan tetapi juga lebih kepada bentuk fisiknya. Oleh karena itu faktor-faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam menentukan potensi kebakaran pada EPS adalah:
- • Kepadatan busa dan bentuk dari produk
- • Konfigurasinya yang berhubungan dengan sumber api
- • Penggunaan bahan pengikat pada substrat atau pelapis
- • Lokasi dari produk (di mana akan menentukan penyaluran panas)
- • Ketersediaan oksigen (ventilasi)
Karakteristik EPS jika terjadi kebakaran
Umum
Sama halnya dengan semua bahan bahan bangunan organik, busa polystyrene pun mudah terbakar. Tetapi pada kenyataannya, sifat pembakarannya bergantung pada kondisi dimana itu digunakan, dan juga bahan bahan properti yang tidak dapat dipisahkan. Properti-properti yang tidak dapat dipisahkan ini berbeda, tergantung pada apakah sel-sel bahan ini terbuat dari EPS dengan atau tanpa bahan tambahan penghambat api. Ikatan dari bahan-bahan lain terhadap sel-sel polystyrene juga sangat mempengaruhi sifat pembakarannya. Sebagai contohnya, produk-produk kertas timah memiliki performa penyebaran api yang sangat bagus di permukaan. Ketika dipasang dengan benar, produk-produk polystyrene yang dikembangkan tidak menyebabkan bahaya yang tidak semestinya. Sangatlah disarankan bahwa polystyrene yang dikembangkan harus selalu dilindungi oleh bahan pelapis, atau ditutup secara sempurna.
Saat terbakar, polystyrene yang dikembangkan memiliki sifat seperti bahan hidrokarbon lainnya seperti: kayu, kertas, dll. Bahan bahan pembakar pada dasarnya berupa karbonmonoksida dan styrene. Saat terjadi kebakaran, styrene akan lebih teruraikan, menghasilkan oksida-oksida berupa karbon, air dan sedikit asap.
EPS diproduksi dalam dua jenis: kualitas standar dan kualitas yang dimodifikasi agar menghambat api, yang ditandai oleh kode “SE”. Penghambat api atau tingkatan SE, yang membuat bahan yang dikembangkan akan lebih sulit untuk terbakar, akan menurunkan secara drastis penyebaran api. Di beberapa negara, seperti di daerah Scandinavia, hanya menggunakan tingkatan standar; sementara di negara lainnya, seperti Jerman, hanya menggunakan tingkatan SE. Akan tetapi, di banyak negara Eropa, kedua tingkatan itu sama-sama digunakan. Jika EPS terkena suhu diatas 100 oC, EPS akan mulai melunak, berkontraksi dan akhirnya mencair. Pada suhu yang lebih tinggi, bahan-bahan gas yang mudah terbakar akan terbentuk dari hasil pencairan tadi. Bisa atau tidaknya mereka terbakar oleh api atau percikan, sebagian besar tergantung pada suhu, lamanya terkena panas dan aliran udara di sekitar bahan (ketersediaan oksigen). EPS yang dicairkan biasanya tidak akan terbakar oleh percikan las atau rokok yang menyala: tetapi, api kecil dapat membuat EPS terbakar, kecuali EPS tersebut mengandung bahan penghambat api (tingkat SE). Suhu perpindahan panas adalah 360 oC. Nilai-nilai tersebut mengindikasikan bahwa jika EPS mencair, ia akan terurai kemudian gas-gas yang mudah terbakar akan terbentuk pada suhu diatas 350 oC. Dalam keadaan tidak adanya sumber energi (asal api), suhu yang akan membuat EPS mencair sesuai tingkatan standar adalah 450 oC. Setelah pembakaran EPS tingkat standar, pembakaran akan menyebar di permukaan EPS, dan akan terus terbakar sampai semua EPS habis. Sementara rendahnya kepadatan dari busa berkontribusi kepada mudahnya pembakaran terjadi hingga rasio udara yang tinggi (98%) dan polystyrene (2%), massa dari bahan-bahan yang ada adalah rendah dan maka dari itu jumlah panas yang dilepaskan pun menjadi rendah.
Kontribusi terhadap penyebaran api
Peraturan membangun gedung di seluruh Eropa menetapkan syarat-syarat mengenai struktur lengkap dan bekerja pada dasar yang merincikan kontribusi terhadap penyebaran api, dari respon kepadatan api dipermukaan dari komponen struktural. Ini disebut sebagai sistem klasifikasi “Reaksi terhadap Api”.
Sistem-sistem klasifikasi dan tes-tes kebakaran berbeda di seluruh Eropa; akan tetapi, sistem dari “Euroclasses” dikembangkan baru-baru ini dan diharapkan tersedia di tahun 2000.
Penghambat Api
Kehadiran bahan tambahan penghambat api di tingkat SE memberi hasil terhadap perkembangan penting akan perilaku api dari EPS. Sementara betapa kompleksnya sebuah situasi kebakaran pada kehidupan nyata membuatnya menjadi sangat sulit untuk memprediksikan keseluruhan performa api pada tes-tes laboratorium, ada beberapa tes-tes kasus kecil yang dengan jelasnya menunjukkan bahwa lebih sulit untuk membakar EPS yang dibuat dari tingkatan dengan bahan tambahan penghambat api daripada dari tingkatan standar.
Dengan adanya sumber-sumber pembakaran besar atau fluks kalor yang banyak, sebagai contohnya, lebih besar daripada 50 kW/m2, dari kebakaran yang melibatkan bahan lain, EPS tingkat SE pada akhirnya akan terbakar, mencerminkan sifat organik dari polystyrene. Dalam kasus seperti itu, bangunan biasanya sudah tidak terselamatkan.
EPS tingkat SE mengandung sedikit unsur penghambat api (maksimal 0.5%). Ini adalah penghambat api hexabromocyclododecan (HBCD). Ini memiliki efek yang menguntungkan ketika EPS didekatkan dengan sumber api. Busanya secara cepat menyusut dan menjauh dari sumber panas, sehingga mengurangi kemungkinan pembakaran. Penguraian dari produk-produk bahan tambahan menyebabkan pemadaman api, jadi saat sumber kebakaran dipadamkan, EPS tidak akan terus terbakar.
HBCD adalah senyawa yang sepertinya dapat disamakan dengan cyclo-aliphatic organobromine dan tidak dapat dibandingkan dengan penghambat api yang beraroma (PBBs dan PBBOs), yang mana penggunaannya telah dilarang sejak lama. Memang, HBCD tidak membentuk racun dioksin dan furanes pada saat pembakaran. Hal ini disimpulkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Jerman pada tahun 1990, untuk pembakaran polystyrene dengan HBCD yang isinya paling sedikit lima kali lebih banyak dari normal (3% dari beratnya). Mereka menemukan bahwa HBCD bukanlah sumber dari terbentuknya polybromodibenzofuranes dan dioksin saat menggunakan berbagai macam oven pembakaran di atas suhu antara 400-800 oC. Hasil yang sama sebelumnya telah disimpulkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Belanda pada tahun 1989 untuk pirolisis dari polystyrene dengan kandungan HBCD sebesar 10% (di dalam penghambat api EPS yang telah dimodifikasi, hanya terdapat 0.5%). Sebuah penelitian pada tahun 1992 yang dilakukan oleh Institut Freseniusl Jerman yang terkenal, menunjukkan bahwa di dalam HBCD itu sendiri tidak ada dioksin brominate atau furanes. Penelitian baru-baru ini yang diadakan di tempat pembakaran Karlsruher, sudah menunjukkan bahwa pembakaran polystyrene di oven pembakaran modern adalah metode daur ulang yang ramah lingkungan terutama dalam hal emisi.
Juga, karena HBCD tidak dapat larut dalam air, maka tidak ada resiko migrasi ke air.
Pelepasan panas
Tingkat pelepasan panas akhir-akhir ini turut dipertimbangkan sebagai parameter penting untuk menilai perilaku api dari suatu bahan. Metode tes berkembang sesuai ISO 5650 yang menggunakan cone calorimeter yang memungkinkan spesimen dapat dibakar dalam rentang fluks kalor yang menakjubkan. Tes-tes di dalam laboratorium industri menunjukan bahwa papan EPS menyusut secara drastis bila menjauh dari sumber panas dan berubah bentuk menjadi polystyrene cair. Tidak ada pembakaran api yang diamati pada fluks kalor diatas 20 kW/m2. Untuk fluks kalor yang lebih tinggi, nilai keseluruhan panas yang dilepas, the overall rate of heat release (RHR), dan titik puncak RHR lebih rendah bagi tingkatan SE yang menggunakan bahan tambahan penghambat api daripada tingkat standar.
Daya kalori dari bahan-bahan EPS (40 MJ/kg) adalah kira-kira dua kali berat kayu (18.6 MJ/kg) tetapi dengan mempertimbangkan perbandingan kepadatan di antara keduanya, volume per volume kalori dari bahan EPS adalah 540 MJ/m3-1250 MJ/m3 dibandingkan 7150 MJ/m3-10400 MJ/m3 untuk produk-produk selulosa, seperti serat, fiber, papan insulator, atau kayu.
Daya panas dari bahan-bahan secara keseluruhan mempengaruhi keganasan api dalam hal laju pertumbuhan api dan tingkat pelepasan daya panasnya sangatlah penting. Hal ini sangat tergantung pada kondisi pembakaran. Panas yang dilepaskan dari bahan EPS adalah sebesar tiga kali lebih cepat dari kayu lunak, tapi dengan durasi yang lebih pendek. Perluasan dan tingkat dari pelepasan panas terbatas terutama karena ventilasi. Seperti contohnya, busa dengan kepadatan 16 kg/m3 membutuhkan lebih dari 150 kali dari volume udara untuk mencapai pembakaran sempurna. Pembakaran menyeluruh dari EPS sangat jarang terjadi, maka potensial panas secara penuh sangat jarang dilepaskan.
EPS dengan ketebalan 200mm dengan ketebalan 20 kg/m3 mempunyai nilai energi yang sama dengan kayu cemara setebal 17mm. Tetapi siapa yang ragu untuk menggunakan kayu cemara setebal 17mm sebagai permukaan tidak terlindungi di langit-langit atau dinding?
ASAP
Asap adalah faktor penting dalam kebakaran. Asap yang sangat tebal akan menghalangi pencarian jalan keluar darurat yang kemudian meningkatkan resiko terhadap orang-orang yang ada di dalamnya. Uap asap juga dapat menjadi beracun atau memiliki kandungan oksigen yang rendah, sementara partikel-partikel jelaga (panas) dapat menghalangi dan dapat mempengaruhi organ-organ pernafasan.
Ketika menilai potensi emisi asap dari bahan-bahan EPS di dalam gedung pada saat terjadi kebakaran, faktor-faktor penting yang perlu dipertimbangkan, mencakup penyebaran api yang memungkinkan menyebar ke seluruh permukaan manapun yang dirancang untuk melindungi bahan bahan EPS, kondisi-kondisi ventilasi dan tingkat penguraian polystyrene. Perlindungan permukaan yang efektif akan membatasi kebakaran ke area-area di mana lapisan sudah tidak berfungsi lagi dan di mana polystyrene yang sudah mencair atau produk-produk penguraian seperti gas, sudah hilang melalui saluran-saluran dan celah-celah kecil.
Sulit untuk memprediksi secara pasti potensi timbulnya asap dari polystyrene karena kondisi pembakaran yang luas sangat mungkin bertemu dengan asal api. Kesimpulan-kesimpulan yang disamakan dari tes-tes skala kecil sudah dikukuhkan oleh bukti dari insiden-insiden kebakaran. Dalam sebuah kebakaran, bahan-bahan EPS memproduksi lebih banyak asap dari massa bahan yang ada daripada kebanyakan bahan bahan lain. Tetapi, harus diperhatikan bahwa bahan-bahan EPS hanya mengandung 2% volume bahan-bahan padat.
Dalam kebakaran yang sesungguhnya di mana banyak asap dihasilkan, seringkali diantisipasi bahwa asap ini berasal dari insulasi atap EPS yang terbakar. Dalam kasus-kasus yang parah, pernyataan ini dibuat bahkan untuk kebakaran dalam bangunan tanpa adanya insulasi EPS. Kenyataannya, kebanyakan asap berasal dari bahan-bahan seperti kayu yang terbakar, aspal dan furniture, khususnya setelah fase kebakaran awal yang pendek.
PENYEBARAN API
Penyebaran api adalah suatu proses dari pembakaran yang progresif sepanjang permukaan yang terus menerus terjadi. Perluasan dan tingkat penyebaran api sangat tergantung pada kemampuan terbakarnya, serta tingkat panas yang dilepaskan dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Pada lapisan lapisan di mana terdapat EPS yang dilekatkan ke substrat yang keras dan disediakan dengan lapisan luar yang aman, resiko penyebaran api juga dipengaruhi oleh properti-properti fisik / panas dari permukaan di mana bahan EPS mungkin mencair.
Perkiraan jarak dari substrat, tingkat integritas dari lapisan yang terlindungi (di mana masih tersisa), dan juga desain dari perlengkapan dan saluran, mempengaruhi distribusi dari polystyrene yang mencair manapun, persediaan udara dan panas ke area kebakaran. Jika perekat sudah digunakan secara menyeluruh untuk menempelkan bahan EPS ke lapisan permukaan, pencairan akan terjadi untuk melengkapi permukaan ini, tapi jika lembaran-lembaran tebal sudah dipasang, khususnya secara horizontal, kegagalan dari lapisan permukaan dapat terjadi pada formasinya dan akan ada tetesan mencair yang jatuh serta seringkali terbakar.
Jika kegagalan lokal dari lapisan yang terlindungi terjadi, persediaan udara ke dan orientasi dari permukaan bahan EPS yang ada, penting dalam menentukan resiko penyebaran api susulan, (sebagai contohnya di dinding berlubang yang diinsulasi dengan bahan EPS) penyebaran yang meluas akan sangat tidak mungkin terjadi karena kurangnya sirkulasi dari udara pembakaran.
Dari penelitian baru-baru ini, mungkin untuk menjumlahkan kontribusi yang dibuat secara terpisah oleh insulator, terhadap perkembangan kebakaran di tempat tempat bebas ventilasi di mana bahan insulator EPS digunakan di panel-panel dinding / dinding dan/atau lapisan langit-langit. Perluasan keterlibatan insulator, diantara faktor-faktor lain, tergantung pada kegagalan pola dari lapisan-lapisan yang terlindungi. Dengan rancangan bagus dan pemilihan yang hati-hati akan lapisan-lapisan yang terlindungi, tingkat di mana insulator kemudian mengkontribusikan panas, asap, dll untuk perkembangan kebakaran dalam suatu tempat dapat secara efektif dikurangi, waktu keterlibatan juga dapat secara pasti ditunda.
Sebuah program penelitian eksperimental skala besar, yang dilakukan oleh the Building Research Establishment (BRE) di Inggris, yang mensimulasi efek-efek akan ruang kebakaran yang sangat berkembang di area besar majelis perbatuan, sudah menunjukkan rancangan yang mempengaruhi performa kebakaran. Ketika lembaran EPS digunakan, dengan pemilihan yang hati-hati akan perlindungan akhir yang tahan cuaca, dengan desain yang sesuai dan pemasangan fondasinya dan pemasangan yang benar di sekitar reveals, bersama-sama penghalang api yang layak, adalah mungkin untuk mengurangi secara efektif kontribusi yang dibuat dengan insulator ke penyebaran api vertikal yang progresif ke seluruh penyempurnaan akhir eksternal atau melalui insulator / lubang; perluasan akan kerusakan yang disebabkan oleh kebakaran juga dapat dibatasi. Performa kebakaran dari renders ringan yang homogen yang mengandung manik-manik EPS sebagai jumlah total yang diaplikasikan secara eksternal ke dinding batu sudah terbukti memuaskan.
Partikel-partikel asap yang diproduksi dalam kebakaran sangatlah banyak, hitam, dan tidak menentu bentuknya. Ketebalan asap yang diproduksi meningkat seiring dengan meningkatnya suhu dan dengan intensitas fluks kalor terhadap bahan tersebut. Dalam kebakaran kecil, sebagai contohnya, di mana bahan-bahan EPS masih terlindungi dengan efektif, dan penguraian terjadi di kondisi kekurangan oksigen, partikel-partikel abu-abu bulat yang kecil mendominasi dan nilai-nilai kepadatan optis yang spesifik menjadi lebih rendah daripada kondisi-kondisi kebakaran besar.
Ketika EPS terbakar, ia menghasilkan banyak sekali asap yang berat, tebal, hitam, yang biasanya proporsional terhadap massa yang terbakar oleh api. Kadang-kadang diperdebatkan bahwa tingkat racun pada uap asap akan sama dengan ketebalan asap, tetapi hal ini sepertinya bukanlah sesuatu yang perlu untuk diperdebatkan.
Untuk penerapan di mana EPS digunakan tanpa adanya lapisan yang terlindungi, jumlah asap dibatasi oleh massa yang cukup terhadap rasio area permukaan dari busa dengan tingkat kepadatan rendah. Walaupun EPS yang terbakar dalam desain standarnya menghasilkan banyak asap, kuantitas total dari asapnya kecil, karena tingkat kepadatan yang rendah di EPS. Tetapi mengingat bahwa EPS di hampir semua kasus tidak digunakan di keadaan terbakar atau di dalam ruangan tanpa adanya resiko kebakaran dan dihimpit di antara bahan-bahan lain, akan lebih realistis untuk menilai produksi asap di situasi praktis ini. Biasanya EPS dilindungi dari api oleh bahan-bahan di sekelilingnya dan itu hanya akan menghasilkan api, ketika keseluruhan gedung berkobar. Dalam kasus-kasus ini, EPS akan berkontraksi karena panas, tetapi tidak menyala terbakar dan tidak menjadi penyebab penyebaran api dan jumlah asap mungkin akan dibatasi. Produksi asap, maka dari itu, akan menjadi sedikit. Sebagai konsekuensinya, dapat disimpulkan bahwa EPS, jika digunakan dengan benar di penerapan yang direkomendasikan, tidak akan menyebabkan meningkatnya resiko akan ketebalan asap.
TINGKAT RACUN
Seperti yang telah didiskusikan sebelumnya, sulit untuk memprediksi perilaku di kasus-kasus kebakaran sesungguhnya dari tes-tes skala kecil. Pertimbangan-pertimbangan yang sama berlaku terhadap penilaian resiko dari emisi seperti gas dari bahan-bahan yang terbakar. Pada prakteknya, dua pendekatan dipakai; pertama, penentuan dari produk penguraian panas dan kedua, penelitian-penelitian akan efek-efek biologis mereka. Penting untuk mengkombinasikan dua pendekatan tersebut untuk mencapai perkiraan realistis secara menyeluruh dari resiko tersebut.
Walaupun EPS yang terbakar menghasilkan asap hitam, tingkat racun dari uap asap yang dilepaskan jauh lebih sedikit daripada tingkat racun yang ada di bahan-bahan yang biasa digunakan. Ini sudah disimpulkan pada tahun 1980 oleh TNO Centre for Fire Safety baik untuk EPS dalam desain standarnya maupun kualitas SE dari EPS. Tingkat racun dari uap diukur kayu, wol, sutra, kapas, kapas yang mengandung penghambat panas dan tiga macam EPS (lihat tabel). Dalam kasus EPS, tingkat racun dari asap tampaknya jauh lebih kecil daripada tingkat racun yang ada di bahan-bahan lain.
Penelitian secara meluas terhadap tingkat racun pada uap asap dari EPS terbakar juga sudah dilakukan, mengacu pada metode DIN 53436 yang adalah sebuah tes tingkat racun pada pembakaran skala kecil, yang memberi hasil-hasil yang sama dengan kebakaran skala penuh.
Pada tes-tes ini, sampel-sampel dipanaskan dengan berurutan dari 300, 400, 500, dan 600 oC. Dan juga bermacam-macam tipe dari EPS, produk-produk alami individual seperti kayu cemara, chipboard, gabus dan tripleks yang dikembangkan, karet, kain wol dan kulit juga diteliti. Hasil-hasilnya dirangkum di tabel di bawah ini. Uap-uap asap dari EPS tampil paling banyak dan sama beracunnya dengan, atau lebih sedikit mengandung racun daripada uap-uap asap dari produk-produk alami di seluruh tingkatan. EPS itu sendiri menunjukkan hasil yang sangat bagus berdasarkan pada volume yang sama dari sampel-sampel tes, karena tingkat kepadatan yang sangat rendah dan ringannya EPS (98% udara). Sebagai tambahan, tidak ada efek negatif ditemukan di EPS-SE pada perkembangan asap dari penghambat api.
Tabel menunjukkan bahwa jumlah signifikan dari karbon monoksida dan styrene monomer dihasilkan ketika EPS dibakar. Tingkat racunnya yang relatif dapat diperkirakan dari figur-figur akan nilai penghirupan. Racun yang akut (L/C 50 periode penghirupan 30 mnt) akan 0.55% v/v untuk karbon monoksida dan 1.0% v/v untuk styrene. Maka dari itu, tingkat racun penghirupan yang akut dari styrene lebih sedikit daripada yang ada di karbon monoksida, dan konsentrasi yang ada di produk-produk gabungan EPS juga lebih sedikit di suhu tinggi yang ada di api. Karbon monoksida bisa menjadi fatal jika dihirup selama 1 - 3 menit pada konsentrasi 10.000 ppm - 15.000 ppm. Styrene memiliki bau yang dapat dideteksi pada 25 ppm-50 ppm yang akan menjadi tidak tertahankan di antara 200 ppm dan 400 ppm. Hal ini memperingatkan pentingnya evakuasi yang cepat pada suatu area. Iritasi pada mata dan rasa mual mungkin terjadi pada 600 ppm dan beberapa kerusakan syaraf mungkin terjadi pada 800 ppm. Dalam kebakaran, styrene mungkin dapat lebih lanjut diuraikan untuk membentuk karbon monoksida, karbon dioksida dan air.
Untuk tingkatan SE, tanda tanda (10-15 ppm) dari hydrogen bromide di deteksi oleh metode DIN 53m436. Nilai L/C50 dari HBr mirip dengan nilai yang ada di karbon monoksida. Karena konsentrasinya sangat rendah, relatif terhadap karbon monoksida, keberadaannya didalam uap yang dihasilkan dari EPS tingkat SE yang terbakar tidak menambahkan secara signifikan terkadap resiko kesehatan. Karena sedikitnya jumlah HBr yang dihasilkan, tidak ada efek merusak signifikan yang diharapkan.
Pembakaran EPS tingkat SE pada kondisi yang ditetapkan di DIN 53 436 tidak menghasilkan tanda tanda dari brominated dibenzodioxins, baik dalam fase yang bersifat gas ataupun dalam sisa padat, hanya porsi tidak berarti dari brominated dibenzodioxins, tidak ada satu pun yang mengandung bahan racun seperti yang didefinisikan di Susunan Bahan Kimia yang dilarang 1994 (bahasa Jerman).
Kontribusi Pentane
Pentane digunakan sebagai bahan peledak untuk mengembangkan polystyrene ke EPS. Pentane adalah hydrokarbon murni walaupun bahan-bahan yang mudah terbakar pindah dari produk akhir EPS pada periode waktu singkat setelah masa produksi. Lebih jauh lagi, pentane tidaklah stabil dan akan membusuk di atmosfir menjadi bentuk karbon dioksida dan air hanya dalam beberapa jam. Maka dari itu Pentane tidak memainkan bagian penting apapun dalam kejadian kebakaran properti EPS atau memiliki peranan dalam kemunculan dan perkembangan kebakaran pada bangunan.
Kesimpulan dari semua penelitian sangatlah jelas dan meyakinkan: lebih sedikit gas-gas beracun dan uap uap yang dilepaskan selama pembakaran EPS baik di desain standarnya dan kualitas SE-nya daripada pada kasus pembakaran dari bahan bahan “alami” seperti kayu, wol dan gabus dan kebanyakan jenis plastik.
Pencairan dan butiran-butiran cair
Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, EPS seharusnya hanya digunakan secara terlindungi ketika berada di dalam ruangan yang memiliki resiko kebakaran. Di gedung-gedung pertanian EPS yang dilapisi dengan aluminium foil tipis seringkali digunakan; menempelkan piringan-piringan ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya bagi kemunculan tetesan-tetesan panas polystyrene yang mencair (di beberapa negara, seperti Denmark, penerapan seperti ini ilegal. Di sini, tingkatan SE seharusnya selalu digunakan). Karena alasan ini, para produsen yang relevan menetapkan peraturan-peraturan kerja dan kondisi penggunaan. Sebagai tambahan, sudah dapat dipastikan itu adalah faktor akan terjadinya kebakaran di mana peralatannya, yang mungkin menyebabkan adanya percikan atau api pada saat kejadian naas tersebut, harus disimpan dalam jarak aman (maka, jangan bersentuhan secara langsung). Hanya pada saat itulah tingkat keamanan terhadap kebakaran ditingkatkan dan kemungkinan akan menetesnya butiran-butiran EPS yang mencair dapat dikurangi dengan sangat; dalam masing-masing kasus dari bangunan pertanian, kemungkinan mengungsikan "ternak" menjadi jauh lebih berkurang!
Lapisan Pelindung
Seperti yang sebelumnya pernah di diskusikan, EPS seperti plastik pada umumnya, mudah terbakar. Sebagai peraturan standar, EPS tidak boleh dipasang tanpa pelindung, jika ruangan tersebut memiliki resiko kebakaran. Saat insulasi EPS telah dipasang secara benar, jika terjadi kebakaran, EPS hanya akan terbakar, jika bahan-bahan pelindungnya telah terlebih dahulu terbakar atau rusak. Hal ini berarti bahwa bangunan tersebut dan isinya telah terbakar sebelumnya sebelum api membakar EPS. Jika EPS terbakar pada saat awal terjadinya kebakaran, hal tersebut terjadi hanya karena akibat dari kelalaian. Satu area penempatan, sebagai contoh, yang sering dilanda api, adalah bagian yang rata yang telah diinsulasi pada atap. Bagaimanapun telah terbukti, dengan desain yang baik, penggabungan penggolongan, perencanaan yang detail, dan implementasi yang hati-hati untuk menjamin bahwa tindakan-tindakan pencegahan telah dilakukan, atap tahan api yang menggunakan insulasi EPS dapat dibuat tanpa kesulitan.
Oleh sebab itu, disarankan bahwa papan EPS yang dipasang harus selalu dilapisi oleh bahan pelapis pelindung, yang dibuat khusus untuk mencegah terjadinya runtuhnya EPS saat terjadinya kebakaran. Perlindungan di permukaan EPS dengan papan plester setebal 9 mm atau plester dengan ketebalan minimum 10 mm telah terbukti memberikan perlindungan dari ledakan, jika bahan pelapis telah di dukung secara mekanis. Sebuah lapisan yang tidak bagus dipakai langsung pada bahan-bahan EPS, dengan insulasi yang mencukupi untuk mempertahankan suhu dibawah 100 oC dengan jangka waktu yang telah ditentukan untuk menyediakan perlindungan selama kesatuan bahan pelapis terjaga. Penyelesaian yang tipis, seperti lapisan tipis pada plester, aluminium film, cat penghambat api yang diterapkan langsung pada bahan EPS, dapat menunda secara minimum terhadap ledakan kebakaran, tetapi sekalinya bahan lapisan bawahnya melunak karena efek panas, hal itu mungkin dapat menyebabkan penetrasi dan kegagalan yang terus menerus pada lapisan.
Sisa-sisa kebakaran EPS dan sampah – membersihkan sebuah bangunan setelah terjadinya kebakaran
Emisi yang dihasilkan dan sisa-sisa kebakaran yang masih ada ketika EPS (dengan dan tanpa penghambat api) terbakar, tidak menyebabkan bahaya apapun terhadap lingkungan. Air dari sisa pemadaman api EPS dan sisa-sisa apinya dapat dibuang tanpa perlu penanganan khusus secara berturut-turut dari instalasi tata kota untuk saluran pembuangan air dan limbah padat.
Dalam banyak kasus kebakaran, bahan-bahan yang terlibat di dalamnya sangatlah banyak. Setelah kebakaran yang menggunakan EPS, bangunan harus dibersihkan sebagai berikut:
- 1. Bersihkan debu dan jelaga dengan menggunakan penyedot debu dibantu dengan menggunakan sikat mekanis.
- 2. Permukaan yang berpori seperti beton.
- 3. Bersihkan dengan air saat prosedur 1 & 2 tidak mencukupi, sebagai contoh, gunakan bahan detergen beralkalin. Sisa-sisa kebakaran dari hasil operasi pembersihan harus dikumpulkan dan dimusnahkan dengan cara dibakar; suhu minimum yang dianjurkan adalah 850 oC. Hal tersebut harus dilakukan oleh perusahaan yang bertugas di bidang tersebut.
Pencegahan umum untuk penyimpanan EPS
Seperti yang telah didiskusikan sebelumnya dalam situasi-situasi tertentu, bahan-bahan EPS dapat disulut dengan api. Kehati-hatian harus diutamakan untuk menghindari kontak dengan sumber-sumber api pada saat penanganan dan penyimpanan bahan sebelum dan sesudah pemasangan. Tingkat penghambat api dapat digunakan jika diperlukan, terutama jika memperhitungkan penyebaran api. Dalam hal timbulnya debu selama produksi dan pemrosesan EPS, sebagai contoh, perawatan mekanis dari busa, prosedur keselamatan yang sama harus diterapkan secara menyeluruh untuk debu dan bahan-bahan organik lainnya.
Kesimpulan
EPS dapat terbakar seperti hal nya bahan-bahan bangunan yang lain. Tetapi, hal ini hanya relevan jika anda menggunakan EPS sebagai bahan insulator yang terbuka. Untungnya, filosofi keselamatan terhadap api di Uni Eropa telah berkembang dengan dasar penilaian produk atau struktur dalam penggunaan akhirnya. Maka dari itu, akan ada syarat-syarat yang ditentukan dalam hubungannya dalam memenuhi elemen-elemen suatu bangunan. Sangat disarankan bahwa EPS harus selalu terlindungi oleh bahan pelapis, atau disimpan dengan sangat rapat. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa produk-produk EPS tidak dapat menyebabkan bahaya kebakaran atau menjadi penyebab bertambahnya resiko ketebalan asap jika dipasang secara benar sesuai peruntukkannya.
Kami juga telah meneliti secara detail tentang sifat dan karakteristik bahan EPS. Kami telah mendemonstrasikan, dalam hal tingkat racun yang disebabkan oleh api atau pembakaran, bahan plastik ini mempunyai nilai yang sama atau bahkan lebih baik dari bahan bahan alami, seperti kayu, bilik, kain goni, dll.
Kesimpulannya: Adalah mungkin untuk membangun bangunan yang aman dari kebakaran menggunakan EPS!
Untuk info lebih lanjut, hubungi kami pada marketing@b-foam.com | Tel. +62-22 6867077 Fax. +62-22 6867076 | Jl. Raya Batujajar KM 5 No. 8, Kab. Bandung 40561 