Memasarkan Produk Ramah Lingkungan = Proses Produksi Harus Ramah Lingkungan Terlebih Dahulu

Dewasa ini, negara-negara di dunia bertambah gencar menggalakkan “Gerakan Hijau” untuk meremajakan kembali Bumi kita yang sudah “letih” karena ulah pencemaran dan pengotoran oleh manusia. Walaupun belum semua masyarakat, khususnya di Indonesia, yang mulai ikut turut serta membudayakan “Gerakan Hijau” ini untuk melestarikan serta memelihara Bumi ini, namun di Indonesia sudah mulai banyak pihak-pihak yang berusaha untuk membuat Bumi ini tetap hijau dan lestari, misalnya dengan tidak menebang pohon sembarangan, melakukan gerakan menanam 1000 pohon, membuang sampah pada tempatnya: dengan memisahkan sampah yang terurai dan tidak terurai, dan melakukan daur ulang.

Melakukan daur ulang, terutama pada bahan ataupun sampah yang sulit terurai adalah sangat penting, selain hal ini dapat menghemat biaya, tentu saja ini menjaga keremajaan Bumi. Kesadaran untuk melakukan daur ulang bukan saja dilaksanakan oleh masyarakat, tetapi juga oleh beberapa perusahaan dan pabrik-pabrik. Salah satu contoh perusahaan yang sudah menjalankan operasi dan produksinya secara lebih bertanggung jawab menjaga kelestarian bumi adalah PT. Beton Elemenindo Putra yang berlokasi di Batujajar, Kabupaten Bandung. Perusahaan ini, yang kebetulan produk unggulannya, yakni b-panel®, bahan untuk bangunan tahan gempa yang hemat energi sekaligus ramah lingkungan, sudah menjalankan proses daur ulang di pabriknya secara sistematis. Salah satu bahan dasar yang pabrik ini gunakan adalah EPS (expanded polystyrene) atau nama yang kita biasa kenal secara umum sebagai styrofoam. EPS atau styrofoam, sudah dikenal umum sebagai sumber limbah yang bermasalah karena tidak membusuk atau terurai, sehingga cenderung berserakan di mana-mana dan menumpuk di penumbunan sampah. Inilah kontradiksi dari EPS, di mana apabila digunakan sebagai bahan bangunan justru menjadi ramah lingkungan karena akan menghemat penggunaan energi bangunan dengan signifikan dan juga tidak “sekali pakai buang” seperti halnya EPS untuk dekorasi dan pembungkus/pengepakan (packaging). Karena menyadari betapa pentingnya mengatur limbah EPS agar tidak menimbulkan dampak lingkungan, pabrik b-panel® melakukan daur ulang EPS secara menyeluruh dan sistematis sehingga bahan baku EPS digunakan dengan semaksimal mungkin, dan limbah (waste) produksi EPS dapat dikurangi, bahkan dihilangkan.

Dari diagram di atas, dapat dilihat alur proses daur ulang pabrik PT. Beton Elemindo Putra, di mana pabrik tersebut memproduksi dua jenis produk. Pertama, produk bahan bangunan b-panel® yang salah satu bahan dasarnya adalah EPS dengan sifat tahan api (Fire Retardant/FR). Produk kedua adalah EPS untuk bahan dekorasi dan pembungkus/pengepakan (packaging) dengan bahan baku serupa, hanya saja EPS untuk dekorasi dan packaging ini tidak perlu mempunyai karakteristik tahan api, dan biasa disebut EPS Regular (RG). Dari bahan baku (EPS bead), EPS diproduksi dengan melewati proses ekspansi dan pembalokan, baik untuk bahan bangunan b-panel® (FR), ataupun untuk bahan dekorasi dan packaging (RG). Dari bentuk balok, untuk produksi b-panel®, EPS-FR kemudian diolah sesuai dengan standar yang ditentukan, dan oleh karena keunggulan sistem bangunan b-panel® ini adalah modular cutting-list (atau sudah dipotong sesuai ukuran gambar proyek) maka sering kali terjadi sisa potongan. Sisa potongan EPS-FR yang kondisinya masih dianggap baik / masih layak dan sesuai standar b-panel®, dihancurkan dan digabung kembali dengan EPS-FR yang baru (virgin) menjadi balok EPS–FR, yang kemudian diproses menjadi b-panel®.

Jika sisa potongan EPS – FR kondisinya sudah tidak sesuai standar b-panel®, sisa potongan tersebut digabung dengan sisa potongan EPS–RG dari produksi EPS non-bahan bangunan. Gabungan potongan ini adalah benar-benar barang sisa pabrik / “waste”. Pabrik ini tidak mendaur ulang EPS-FR yang sudah tercampur dengan EPS-RG untuk dijadikan b-panel® kembali, karena untuk bahan bangunan, persyaratan ketahanan api (Fire Retardant) adalah mutlak. Sisa potongan EPS waste ini juga tidak dapat diproses kembali menjadi balok untuk dekorasi dan packaging, karena untuk dekorasi dan packaging diperlukan permukaan EPS yang halus dan tidak mengeluarkan serpihan-serpihan, berbeda dengan untuk bahan bangunan b-panel®, di mana lebih kasarnya permukaan EPS tidak menjadi masalah untuk aplikasi bahan bangunan, malah sebaliknya, cukup bermanfaat karena dengan permukaan yang kasar, adonan semen menjadi lebih menempel saat plesteran. Jadi, sisa potongan EPS gabungan tipe FR dan RG ini adalah benar-benar bahan sisa produksi (waste).

Namun demikian, di pabrik PT. Beton Elemenindo Putra, potongan EPS waste tersebut tidak dibuang begitu saja. Pabrik tersebut memiliki sebuah fasilitas peleburan EPS (EPS melting facility) yang tidak jauh dari lokasi pabrik, agar EPS sisa produksi tersebut tidak menjadi limbah, melainkan menjadi produk lain yang berguna. EPS waste dari pabrik dibawa ke tempat peleburan EPS, dimana EPS waste dilebur dengan menggunakan tanur yang didesain khusus, kemudian dicetak menjadi polystyrene keras dalam bentuk kepingan-kepingan (chips) ataupun batangan (ingots). Chips dan ingots polystryene tersebut menjadi bahan baku produk lain, misalnya untuk dijadikan casing handphone, casing komputer, dll.

Fasilitas peleburan EPS ini tidak hanya digunakan oleh pabrik PT Beton Elemenindo Putra sendiri saja. Setiap kali setelah pengiriman produk, armada truk PT. Beton Elemenindo Putra juga “menjemput”, tanpa mengenakan biaya, limbah sytrofoam dari perusahaan-perusahaan dan toko-toko di berbagai pelosok Bandung dan sekitarnya, untuk bawa ke fasilitas peleburan EPS PT. Beton Elemenindo Putra ini. Walhasil, bukan hanya proses produksi pabrik b-panel® sangat sedikit menghasilkan limbah (kurang dari 0.3% dalam bobot produksi), operasi pabrik ini juga membantu mengurangi penumpukan limbah Styrofoam di Kota Bandung dan sekitarnya. Selain pelaksanaan proses daur ulang yang sistematis ini, PT. Beton Elemenindo Putra juga menjalankan aspek-aspek produksi lainnya secara ramah lingkungan pula. Misalnya: fasilitas boiler produksi yang sudah menggunakan tenaga cangkang kelapa sawit (palm kernel shell) sehingga emisi gas rumah kaca (green house gas) pabrik menjadi minim, dan juga pengembunan uap proses produksi di bak kolektor untuk mengurangi konsumsi air. Ini semua dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan pabrik ini benar-benar ramah lingkungan, secara menyeluruh. Mungkin di sektor industri bahan bangunan, PT. Beton Elemenindo Putra dapat dikatakan sebagai pelopor pabrik ramah lingkungan di Indonesia.

Akhir kata, sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini semboyan “Hijau” dan ramah lingkungan banyak dijadikan alat pemasaran saja, karena banyaknya perusahaan-perusahaan yang memasarkan produk ramah lingkungan, tapi dalam kenyataannya produknya malah mencemari, atau di balik layar, proses produksinya tidak dapat dipertanggung jawabkan pada Bumi ini. Semoga masyarakat makin teliti dan menghargai upaya perusahaan-perusahaan yang mencoba berkarya sekaligus dengan gigih menjaga kelangsungan lingkungan kita.

Sumber: Properti.biz Feb 2010, Techno Konstruksi Magazine edition 24 tahun 2010

Referensi Artikel : Koran “Properti.biz”, Februari 2010 [ PDF ]